ممليهارا دان منديديق انقمڠهوبوڠن صلة الرحيم كلوارڬ سوامي دان استريممنوهي
كڤرلوان ماسيڠ-ماسيڠ منوروت شرعنصيحت دان مناصيحتي دڠن لمبوت دان برحكمه

بسم الله الرحمن الرحمن الرحم
Walau apapun latar belakang manusia di dalam dunia ini ianya bermula daripada seorang guru. Doktor, peguam, jurutera, perdana menteri dan sebagainya terhasil daripada didikan guru di sekolah. Guru ibarat matahari yang sentiasa berkhidmat untuk menyinari bumi ini. Tidak sesaat pun ianya memberhentikan fungsinya untuk berkhidmat kepada seluruh kehidupan di muka bumu ini. Begitu juga dengan guru yang sentiasa mencurahkan ilmunya kepada anak didiknya supaya menjadi orang yang berjaya di dunia dan akhirat. Tiada benda yang paling manis buat seorang guru dengan melihat pelajarnya berjaya dan menjadi orang yang berguna kepada agama, bangsa dan negara. Namun profesion perguruan sekarang tidak lagi dipandang tinngi oleh masyarakat. Mereka menganggap guru sebagai seorang yang hanya mendidik dan tidak perlu dihormati. Inilah realiti yang berlaku pada dunia sekarang. Guru tidak lagi dihormati, guru dihina, dan sebagainya.Dimanakah silapnya? adakah silapnya pada sistem pendidikan yang berbentuk exam "oriented"? Jika kita meneliti falsafah pendidikan kebangsaan sendiri ianya bermatlamat untuk menghasilkan insan yang sempurna dari sudut jasmani, emosi, rohani dan intelektual. Berdasarkan kepada falsafah pendidikan kebangsaan, masalah pelajar yang kurang ajar, melawan kata guru, masalah sosial dan sebagainyatidak akan berlaku kerana matlamat pendidikan sendiri adalah untuk melahirkan insan yang seimbang dari keempat-empat aspek tersebut. Maka dengan itu, hendaklah kita menganalisa kembali apakah punca sebenar perkara ini berlaku.....
wahai anak didiku...
tiada apa yang kami harapkan kepada kalian
melainkan kalian menjadi manusia yang berguna
dengarlah rintihan guru mu
yang menagih perhatianmu semasa belajar,
kerajinanmu dalam membuat kerja, semangatmu dalam menuntut ilmu
agar kalian semua menjadi orang yang berjaya suatu hari nanti..
dan kalian mendapat keredhaan dari Allah s.w.t.....


Pagi ini kita kembali terjaga. Kembali menghirup segarnya udara kehidupan. Dia masih memberikan kita kesempatan untuk kembali berjumpa dengan orang-orang yang kita cintai. Berjumpa dengan manisnya senyuman si kecil, dan segala hal yang selalu membuat degupan jantung kerinduan kita berdetak begitu kencangnya.


Dengan Rahmat~Nya, Dia masih memberi kita kesempatan. Kesempatan untuk melihat sejenak ke belakang. Untuk melihat hal apa saja yang dirasa kurang dan senantiasa perlu untuk terus dibenahi.


Mungkin kemarin mata ini tak terjaga. Tidak pula lidah, pikiran dan juga hati. Banyak gerak yang ternyata masih jauh dari nilai yang berarti. Meski begitu, kini Dia masih menganugerahkan kita hari baru untuk kembali.


Robbi…
Betapa, sudah selayaknya kami menjawab kasih sayang~Mu dengan perbuatan terpuji..


MENELADANI RASULULLAH SAW SEBAGAI PENDIDIK
Arman Tirtajaya, S.Pd

Segala puji bagi Allah SWT yang telah mengutus Nabi Muhammad Rasulullah SAW teladan abadi untuk segala bangsa di seluruh muka bumi. Rasulullah SAW yang memberi teladan kepada kita betapa mulianya perjuangan menjadi seorang pendidik generasi yang meninggikan harkat dan martabat manusia. Rasulullah SAW. Doa kita semoga shalawat dan salam senantiasa Allah SWT limpahkan kepada beliau, kepada orang-orang yang seperjuangan bersama beliau, kepada orang-orang sesudah zaman beliau, dan kepada semua pengikut beliau hingga Yaumil Akhir kelak.

Sesungguhnya Rasulullah SAW adalah seorang pendidik yang mampu membentuk manusia hingga menjadi manusia yang diridhai Allah SWT. Kebersamaan beliau selama ini dengan kita sesungguhnya adalah pendidikan yang beliau berikan kepada kita. Tak terasa namun pasti melalui Al Quran Surah Al-Baqarah ayat 151,
“Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu seorang Rasul (Muhammad) dari (kalangan) kamu yang membacakan ayat-ayat Kami, menyucikan kamu, dan mengajarkan kepadamu Kitab (Al Quran) dan Hikmah (Sunnah), serta mengajarkan apa yang belum kamu ketahui.”

Beliau pula yang menjadi teladan bagi kita semua, teladan bagi kita yang senantiasa berharap rahmat-Nya, teladan bagi kita yang mengimani Hari Kiamat, dan teladan bagi kita yang banyak mengingat Allah,

“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah SWT.” (QS Al-Ahzab: 21)

Guru sebagai Murabbi
Guru bertindak sebagai yang melaksanakan kewajiban ketuhanan Allah SWT dan memelihara hubungan dengan Allah SWT sebagaimana Rasulullah SAW telah lakukan meskipun beliau telah dijamin masuk surga. Di sinilah seorang guru mengikat hati mereka dengan melakukan segala instruksi yang disampaikan Allah SWT dan Rasul-Nya. Di sini pula seorang guru mengerjakan kewajiban ketuhanan untuk orang lain. Ia membersihkan pribadi murid-muridnya dari kebencian Allah sehingga jiwa mereka kosong dari maksiat kepada Allah SWT. Ia mengisi pribadi mereka dengan kesenangan Allah SWT sehingga jiwanya terisi dengan ketaatan kepada Allah SWT.

Guru sebagai Mu’alim
Mencari ilmu, memahami ilmu, dan mengamalkan ilmu adalah ciri seorang guru yang berkualifikasi sebagai mu’alim. Guru yang seperti ini sangat haus akan ilmu dan berusaha mencarinya. Setelah menguasai ilmu, guru ini menebarkan ilmu itu ke lingkungan sekitarnya. Dengan tuntunan wahyu Allah SWT, Rasulullah SAW menebarkan ilmu kepada lingkungan sekitarnya hingga ke seluruh dunia melalui lisan para pengikutnya. Sang guru mengikat mereka dengan pengawasan dan pendekatan yang ketat sehingga amal murid-muridnya berdasarkan ilmu dan ilmu yang diperoleh murid-muridnya dapat diamalkan.

Guru sebagai Mu’addib
Di sinilah guru membentuk karakter yang islami murid-muridnya. Diperkenalkan kepada muridnya adab-adab atau perilaku yang islami sehingga tampaklah keindahan ajaran Islam dalam diri murid-muridnya. Ia memberi peringatan dan mewanti-wanti agar murid-muridnya tidak terjerumus ke jurang kehinaan, kesengsaraan, dan kekalahan. Ia juga mempersatukan mereka dengan satu tatanan sosial masyarakat atau kelompok sebagai kontrol terhadap perilaku yang dilakukan masing-masing muridnya. Di sini guru sedang membentuk manusia beradab hingga peradaban Islami yang dicita-citakan terwujud.

Sungguh, ternyata kita bukan hanya sekedar menjadi guru atau sekedar menjadi orang yang digugu dan ditiru, melainkan menjadi guru yang meneladani Rasulullah SAW sebagai pendidik. Semoga kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang meneladani Rasulullah SAW sebagai pendidik. Amin.

Sumber Rujukan:

Makalah Ustadz Tadjuddin Noor, Lc berjudul “Madah yang Disampaikan oleh Rasulullah SAW Sebagai Pendidik” pada Seminar Setengah Hari Ma’had Al-Amal, Masjid Unisba, November 1994.
Resume Ceramah Umum Dr. Ahmad Zayadi tentang Filsafat Pendidikan Islam pada acara bulanan Simpul Pendidikan di SD Tunas Unggul, 24 April 2004.